Sabtu, 19 Februari 2011

FILSAFAT PENDIDIKAN ESSENSIALISME

Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, di mana serta terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas.
Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme, akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing.
Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut esensialisme, karena itu timbul pada zaman itu, esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Maka, disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta, yang memenuhi tuntutan zaman. Beberapa tokoh dalam aliran ini: william C. Bagley (1874-1946), George Wilhelm Friedrich Hegel (1770 – 1831), Thomas Briggs, Frederick Breed dan Isac L. Kandell.
  1. Pandangan Ontologi Essentialisme
1. Sintesa ide idealisme dan realisme tentang hakikat realita berarti essensialisme mengakui adanya realita obyektif di samping pre-determinasi, supernatural dan transcendal.
2. Aliran ini dipengaruhi penemuan-penemuan ilmu pengetahuan modern baik Fisika maupun Biologi. Karena itu realita menurut analisa ilmiah dapat dihayati dan diterima oleh Essensialisme. Jadi, Semesta ini merupakan satu kesatuan yang mekanis, menurut hukum alam obyektif (Kausalitas). Manusia adalah bagian alam semesta dan terlihat, tunduk pada hukum alam.
3. Penapsiran Spiritual atas sejarah. Teori filsafat Heggel yang mensitesakan science dengan religi dalam kosmologi, berarti sebagai interpretasi sepiritual atas sejarah perkembangan realita semesta. Hukum apakah yang mengatur tiap fase perubahan dan tiap peristiwa sejarah, perubahan-perubahan social, dijawab problem itu secara prinsip: “Bahwa sejarah itu adalah pikiran Tuhan – pikiran yang di ekspresikan, dinamika abadi yang merubah dunia, yang mana ia secara sepiritual adalah realitas”.
4. Faham Makrokosmos dan Mikrokosmos. Makrokosmos adalah keseluruhan alam semesta raya dalam suatu deign dan kesatuan menurut teori kosmologi. Mikrokosmos ialah bagian tunggal, suatu fakta yang terpisah dari keseluruhan itu, baik pada tingkat umum, pribadi manusia, ataupun lembaga.
  1. Pandangan Epistemologi Essentialisme
Teori kepribadian manusia sebagai refleksi Tuhan adalah jalan untuk mengerti epistemologi Essentialisme. Sebab, jika manusia mampu menyadari realita dirinya sebagai mikrokosmos dalam makrokosmo, maka manusia pasti mengetahui dalam tingkat/kualitas apa rasionya mampu memikirkan kesemestaan itu. Dari berdasarkan kualitas itulah dia memproduksi secara tepat pengetahuannya dalam bidang-bidang: Ilmu alam, Biologi, Sosial, Estetika, dan Agama.
1. Kontraversi jasmaniah-rohaniah
Perbedaan Idealisme dengan realisme ialah karena yang pertama menganggap bahwa rohaniah adalah kunci kesadaran tentang realita. Manusia hanya mengetahu melalui ide atau rohaniah. Sebaliknya realis berpendapat bahwa kita hanya mengetahui sesuatu realita di dalam dan melalui jasmani
2. Pengetahuan
a. Idealisme
• Kita hanya mengerti rohani kita sendiri. Tetapi pengertian ini memberi kesadaran untuk mengerti realita yang lain (Personalisme)
• Menurut Hegel: “Substansi mental tercermin pada hukum logika (Mikrokosmos) dab hukum alam (Makrokosmos). Hukum dialegtika berfikir, berlaku pula hukum perkembangan sejarah dan kebudayaan manusia (Teori Dinamis).
• Saya sebagai finite being (Makhluk terbatas) mengetahui hukum dan kebenaran universal sebagai realisasi resonasi jiwa saya dengan Tuhan. (Teori Absolutisme)
b. Realisme
Realisme dalam pengetahuan sangat dipengaruhi oleh Newton dengan ilmu pengetahuan alamnya, cara menafsirkan manusia dalam realisme adalah:
• Teori Associationisme: Teori ini sangat dipengaruhi oleh filsafat empirisme John Locke, atau ide-ide dan isi jiwa adalah asosiasi unsure-unsur penginderaan dan pengamatan. Penganut teori ini juga menggunakan metode introspeksi yang dipakai oleh kaum idealis (T.H. Green)
• Teori Behaviorisme: Aliran behaviorisme berkesimpulan bahwa perwujudan kehidupan mental tercermin pada tingkah laku.
• Teori Connectionisme: Teori Connectionisme menyatakan semua makhluk hidup, termasuk manusia terbentuk tingkah lakunya oleh pola-pola connections between (Hubungan-hubungan antara) stimulus (S) dan Respone (R).
  1. Pandangan Axiologi Essentialisme
Pandangan ontologi dan epistemologinya amat mempengaruhi pandangan axiology ini. Bagi aliran ini, nilai-nilai, seperti juga kebenaran berakar dalam dan berasal dari sumber objektif. Watak sumber ini dari mana nilai-nilai berasal, tergantung pada pandangan-pandangan idealisme dan realisme, sebab Essentialisme terbina oleh kedua sayap tersebut.
Teori Nilai
1. Menurut Idealisme
a. Idealisme: “Menurut aliran ini bahwa hukum etika adalah kosmos, karena itu seseorang dikatakan baik hanya jika ia secara active berada di dalam dan melaksanakan hukum-hukum itu”.
b. Idealisme Modern: “Idealisme lebih di ungkapkan oleh E. Kant: Bahwa manusia yang baik adalah manusia yang bermoral”.
c. Teori Sosial Idealisme: “Disini E. Kant menekankan akan adanya rasa sosialis, kekluargaan, patriotisme, dan nasionalisme. Yang dimaksud E. Kant adalah adanya kemerdekaan individu agar bisa bersosialisasi dengan manusia lainnya.
d. Teori Estetika: “Bahwa yang disebut nilai adalah suatu keindahan” (E. Kant).
2. Menurut Realisme
a. Etika Determinisme: “Semua unsur semesta, termasuk manusia adalah satu kesatuan dalam satu rantai yang tak berakhir dan dalam kesatuan hukum kausalitas. Seseorang tergantung seluruhnya pada sebab-akibat kodrati itu dan yang menentukan keadaannya sekarang, baik ataupun buruk.
b. Teori Sosial: Teori ini lebih menekankan kepada unsure ekonomi, social, politi dan Negara. Free man (Bertrand Russel). Dan lebih menekankan kepada kehidupan sekarang.
c. Teori Estetika: Menurut paham ini bahwa keindahan itu tidak hanya sesuatu yang bagus, namun ada pula yang buruk.

Prinsip dan karakteristik essensialisme

Aliran filsafat essensialisme pertama kali muncul sebagai reaksi atas simbolisme mutlak dan dogmatisme abad pertengahan. Filsafat ini menginginkan agar manusia kembali kepada kebudayaan lama karena kebudayaan lama telah banyak melakukan kebaikan untuk manusia. Esesensialisme modern dalam pendidikan adalah gerakan pendidikan yang memprotes terhadap skeptisisme dan sinisme dari gerakan Progresisvisme terhadap nilai-nilai yang tertanam dalam warisan budaya/sosial. Menurut Esesensialisme, nilai-nilai yang tertanam dalam warisan budaya/sosial adalah nilai-nilai kemanusiaan yang terbentuk secara berangsur-angsur dengan melalui kerja keras dan susah payah selama beratus tahun, dan di dalamnya telah teruji dalam gagasan-gagasan dan cita-cita yang telah teruji dalam perjalanan waktu. Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip Essensialisme adalah :
1). Esensialisme berakar pada ungkapan realisme objektif dan idealisme objektif yang moderen, yaitu alam semesta diatur oleh hukum alam sehingga tugas manusia memahami hukum alam adalah dalam rangka penyesuaian diri dan pengelolaannya.
2). Sasaran pendidikan adalah mengenalkan siswa pada karakter alam dan warisan budaya. Pendidikan harus dibangun atas nilai-nilaiyang kukuh, tetap dan stabil
3). Nilai (kebenaran bersifat korespondensi ).berhubungan antara gagasan dengan fakta secara objekjtif.
4). Bersifat konservatif (pelestarian budaya) dengan merefleksikan humanisme klasik yang berkembang pada zaman renaissance.

Ciri-ciri Filsafat Pendidikan Esesensialisme 

yang disarikan oleh William C. Bagley adalah sebagai berikut :
1) Minat-minat yang kuat dan tahan lama sering tumbuh dari upaya-upaya belajar awal yang memikat atau menarik perhatian bukan karena dorongan dari dalam jiwa.
2) Pengawasan, pengarahan, dan bimbingan orang yang belum dewasa adalah melekat dalam masa balita yang panjang atau keharusan ketergantungan yang khusus pada spesies manusia.
3) Oleh karena kemampuan untuk mendisiplinkan diri harus menjadi tujuan pendidikan, maka menegakkan disiplin adalah suatu cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Di kalangan individu maupun bangsa, kebebasan yang sesungguhnya selalu merupakan sesuatu yang dicapai melalui perjuangan, tidak pernah merupakan pemberian.
4) Esesensialisme menawarkan teori yang kokoh kuat tentang pendidikan, sedangkan sekolah-sekolah pesaingnya (progresivisme) memberikan sebuah teori yang lemah. Apabila terdapat sebuah pertanyaan di masa lampau tentang jenis teori pendidikan yang diperlukan sejumlah kecil masyarakat demokrasi di dunia, maka pertanyaan tersebut tidak ada lagi pada hari ini.

Pandangan Esensialisme di Bidang Pendidikan

1. Pandangan Essensialisme Mengenai Belajar.
Idealisme, sebagai filsafat hidup, memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitik beratkan pada aku. Menurut idealisme, bila seorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri, terus bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. Dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos. Segala pengetahuan yang dicapai oleh manusia melalui indera merperlukan unsur apriori, yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu. Bila orang berhadapan dengan benda-benda, tidak berarti bahwa mereka itu sudah mempunyai bentuk, ruang dan ikatan waktu. Bentuk, ruang dan waktu sudah ada pada budi manusia sebelum ada pengalaman atau pengamatan. Jadi, apriori yang terarah bukanlah budi kepada benda, tetapi benda-benda itu yang terarah kepada budi. Budi membentuk, mengatur dalam ruang dan waktu.
Dengan mengambil landasan pikir tersebut, belajar dapat didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi spiritual. Jiwa membina dan menciptakan diri sendiri. Pandangan-pandangan realisme mencerminkan adanya dua jenis determinasi mutlak dan determinasi terbatas:
1. Determinisme mutlak, menunjukkan bahwa belajar adalah mengalami hal-hal yang tidak dapat dihalang-halangi adanya, jadi harus ada, yang bersama-sama membentuk dunia ini. Pengenalan ini perlu diikuti oleh penyesuaian supaya dapat tercipta suasana hidup yang harmonis.
2. Determinisme terbatas, memberikan gambaran kurangnya sifat pasif mengenai belajar. Bahwa meskipun pengenalan terhadap hal-hal yang kausatif di dunia ini berarti tidak dimungkinkan adanya penguasaan terhadap mereka, namun kemampuan akan pengawas yang diperlukan.
Pada prinsipnya, proses belajar menurut Essensialisme adalah melatih daya jiwa potensial yang sudah ada dan proses belajar sebagai proses absorbtion (menyerap) apa yang berasal dari luar. Yaitu warisan-warisan sosial yang disusun dalam kurikulum tradisional, dan guru berfungsi sebagai perantara.
2. Pandangan Essensialisme Mengenai Kurikulum
Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat. Kurikulum itu bersendikan alas fundamen tunggal, yaitu watak manusia yang ideal dan ciri-ciri masyarakat yang ideal. Kegiatan dalam pendidikan perlu disesuaikan dan ditujukan kepada yang serba baik. Atas ketentuan ini kegiatan atau keaktifan anak didik tidak terkekang, asalkan sejalan dengan fundamen-fundamen yang telah ditentukan.
Menurut Essensialisme: “Kurikulum yang kaya, yang berurutan dan sistematis yang didasarkan pada target yang tidak dapat dikurangi sebagai suatu kesatuan pengetahuan, kecakapan- kacakapan dan sikap yang berlaku di dalam kebudayaaan yang demokratis. Kurikulum dibuat memang sudah didasarkan pada urgensi yang ada di dalam kebudayaan tempat hidup si anak”.
3. Peranan Sekolah menurut Essensialisme
Sekolah berfungsi sebagai pendidik warganegara supaya hidup sesuai dengan prinsip-prinsip dan lembaga-lembaga sosial yang ada di dalam masyarakatnya serta membina kembali tipe dan mengoperkan kebudayaan, warisan sosial, dan membina kemampuan penyesuaian diri individu kepada masyarakatnya dengan menanamkan pengertian tentang fakta-fakta, kecakapan-kecakapan dan ilmu pengetahuan.
4. Penilaian Kebudayaan menurut Essensialisme
Essensialisme sebagai teori pendidikan dan kebudayaan melihat kenyataan bahwa lembaga-lembaga dan praktik-praktik kebudayaan modern telah gagal dalam banyak hal untuk memenuhi harapan zaman modern. Maka untuk menyelamatkan manusia dan kebudayaannya, harus diusahakan melalui pendidikan.
5. Teori Pendidikan
a. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah melalui suatu inti pengetahuan yang telah terhimpun, yang telah bertahan sepanjang waktu dan dengan demikian adalah berharga untuk diketahui oleh semua orang. Pengetahuan ini diikuti oleh keterampilan. Keterampilan-keterampilan, sikap-sikap, dan nilai-nilai yang tepat, membentuk unsur-unsur yang inti (esensial) dari sebuah pendidikan. Pendidikan bertujuan untuk mencapai standar akademik yang tinggi, pengembangan intelek atau kecerdasan.
b. Metode Pendidikan
1) Pendidikan berpusat pada guru (teacher centered).
2) Umumnya diyakini bahwa pelajar tidak betul-betul mengetahui apa yang diinginkan, dan mereka haru dipaksa belajar. Oleh karena itu pedagogi yang bersifat lemah-lembut harus dijauhi, dan memusatkan diri pada penggunaan metode-metode tradisional yang tepat.
3) Metode utama adalah latihan mental, misalnya melalui diskusi dan pemberian tugas; dan penguasan pengetahuan, misalnya melalui penyampaian informasi dan membaca.
c. Kurikulum
1) Kurikulum berpusat pada mata pelajaran yang mencakup mata-mata pelajaran akademik yang pokok.
2) Kurikulum Sekolah Dasar ditekankan pada pengembangan keterampilan dasar dalam membaca, menulis, dan matematika.
3) Kurikulum Sekolah Menengah menekankan pada perluasan dalam mata pelajaran matematika, ilmu kealaman, humaniora, serta bahasa dan sastra. Penguasaan terhadap mata-mata pelajaran tersebut dipandang sebagai suatu dasar utama bagi pendidikan umum yang diperlukan untuk dapat hidup sempurna. Studi yang ketat tentang disiplin tersebut akan dapat mengembangkan kesadaran pelajar, dan pada saat yang sama membuat mereka menyadari dunia fisik yang mengitari mereka. Penguasaan fakta dan konsep-konsep pokok dan disiplin-disiplin yang inti adalah wajib.
d. Pelajar
Siswa adalah makhluk rasional dalam kekuasaan fakta dan keterampilan-keterampilan pokok yang siap melakukan latihan-latihan intelektif atau berpikir. Sekolah bertanggungjawab atas pemberian pelajaran yang logis atau dapat dipercaya. Sekolah berkuasa untuk menuntut hasil belajar siswa
e. Pengajar
1) Peranan guru kuat dalam mempengaruhi dan mengawasi kegiatan-kegiatan di kelas.
2) Guru berperanan sebagai sebuah contoh dalam pengawalan nilai-nilai dan penguasaan pengetahuan atau gagasan-gagasan.

C. KESIMPULAN

Esesensialisme merupakan gerakan pendidikan yang bertumpu pada mazhab filsafat idealisme dan realisme. Meskipun kaum Idealisme dan kaum Realis berbeda pandangan filsafatnya, mereka sepaham bahwa:
a. Hakikat yang mereka anut memberi makna pendidikan bahwa anak harus menggunakan kebebasannya, dan ia memerlukan disiplin orang dewasa untuk membantu dirinya sebelum dia sendiri dapat mendisiplinkan dirinya; dan
b. Manusia dalam memilih suatu kebenaran untuk dirinya sendiri dan lingkungan hidupnya mengandung makna pendidikan bahwa generasi muda perlu belajar untuk mengembangkan diri setinggi-tingginya dan kesejahteraan sosial.
Bagi aliran ini “Education as Cultural Conservation”, pendidikan sebagai pemelihara kebudayaan. Karena dalil ini maka aliran Essentialisme dianggap para ahli sebagai “Conservative road to culture”, yakni aliran ini ingin kembali kepada kebudayaan lama, warisan sejarah yang telah membuktikan kebaikan-kebaikannya bagi kehidupan manusia. Essentialisme percaya bahwa pendidikan harus didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Kebudayaan yang mereka wariskan kepada kita hingga sekarang, telah teruji oleh segala zaman, kondisi dan sejarah. Kebudayaan demikian, ialah essensia yang mampu pula mengemban hari kini dan masa depan umat manusia. Kebudayaan sumber itu tersimpul dalam ajaran para filosof ahli pengetahuan yang agung, yang ajaran dan nilai-nilai ilmu mereka bersifat kekal, monumental. Essensialisme merupakan paduan ide-ide filsafat Idealisme dan Realisme. Praktek filsafat pendidikan essensialisme dengan demikian menjadi lebih kaya dibandingkan jika ia hanya mengambil posisi sepihak dari salah satu aliran yang ia sintesiskan.
Sintesa idealisme dan realisme tentang hakikat realita berarti essensisalime mengakui adanya realita obyaktif di samping pre-determinasi, supernatural, dan transcendal.
Tidak semua idealis dan realis dapat digolongkan essensialis dalam prinsip pendidikan. Namun essensialis merupakan pemahaman yang bersumber dari pendekatan idealis dan realis atau kombinasi kedua aliran itu. Pada prinsipnya, proses belajar menurut Essensialisme adalah melatih daya jiwa potensial yang sudah ada dan proses belajar sebagai proses absorbtion (menyerap) apa yang berasal dari luar. Yaitu warisan-warisan sosial yang disusun dalam kurikulum tradisional, dan guru berfungsi sebagai perantara.
Menurut Essensialisme: “Kurikulum yang kaya, yang berurutan dan sistematis yang didasarkan pada target yang tidak dapat dikurangi sebagai suatu kesatuan pengetahuan, kecakapan-kacakapan dan sikap yang berlaku di dalam kebudayaaan yang demokratis. Kurikulum dibuat memang sudah didasarkan pada urgensi yang ada di dalam kebudayaan tempat hidup si anak”.
Peranan Sekolah berfungsi sebagai pendidik warganegara supaya hidup sesuai dengan prinsip-prinsip dan lembaga-lembaga sosial yang ada di dalam masyarakatnya serta membina kembali tipe dan mengoperkan kebudayaan, warisan sosial, dan membina kemampuan penyesuaian diri individu kepada masyarakatnya dengan menanamkan pengertian tentang fakta-fakta, kecakapan-kecakapan dan ilmu pengetahuan.
Kebudayaan menurut Essensialisme sebagai teori pendidikan dan kebudayaan melihat kenyataan bahwa lembaga-lembaga dan praktik-praktik kebudayaan modern telah gagal dalam banyak hal untuk memenuhi harapan zaman modern. Maka untuk menyelamatkan manusia dan kebudayaannya, harus diusahakan melalui pendidikan.
Pendidikan menurut Essensialisme adalah membantu peserta didik berpikir rasional, tidak terlalu berakar pada masa lalu, memperhatikan hal-hal yang kontemporer, memuatkan keunggulan, bukan kecukupan pemilikan nilai-nilai tradisional. Teori ini mementingkan mata pelajaran dari pada proses.
Banyak aliran aliran filsafat pendidikan, masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan, oleh karena itu dalam praktek pengembangan kurikulum penetapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara efektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan.

Rabu, 19 Januari 2011

aswaja


A.  PENDAHULUAN
1.      PENGERTIAN ASWAJA
Kalimat aswaja berasal dari bahasa arab,
Ahlun (اَهْلٌ) artinya keluarga, famili. Sunnah (السنّه) jalan, tabiat dan perilaku kehidupan. Wal jama'ah (والجماعه) artinya kelompok atau kumpulan.
Secara istilah, aswaja adalah sebutan untuk komunitas Islam yang secara teologis setia kepada tradisi-tradisi nabi dan salafusholihin, dan secara sosioidiologi politik mencoba membebaskan dari konflik 2 ekstrim yang telah membawa perpecahan keras dan berdarah dalam umat Islam.
Tujuan aswaja adalah mengembalikan kemurnian ajaran Islam seperti pada waktu zaman Rosulullah dan shahabat-shahabatnya.
2.   Golongan yang termasuk ahli sunnah wal jama'ah
a.   Golongan yang termasuk aswaja ialah mereka yang rosulullah dan i'tiqod shahabatnya, amal ibadah dan perjuangannya untuk menegakkan agama Islam dan umatnya. Sebagaimana firman Allah dalam surat At Taubah ayat 100,
وَالسَّابِقُونَ الاَوَّلُونَ مِنَ المُهَاجِرِينَ وَالاَنْصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوهُمْ يِاِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَاَعَدَّلَهُمْ جَنَّتٍ تَجْرِي تَهْتِهَا الاَنْهَارُ خٰلِذِينََ فِيهَا اَبَدً, ذٰلِكَ الفَوْزُ العَطِيمُ
Artinya:
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.
b.   Abdul  Qodir Al Baghdadi dalam kitab karangannya, "Al Furqu bainal Firoq" merinci kelompok aswaja menjadi 8 macam, yaitu:
1)      Ulama tauhid, hukum janji dan ancaman, pahala dan dosa, syarat-syarat ijtihad, imamah dan zu'amah. Serta ilmu kalam yang bebas dari penyelewengan nafsu dan kesesatan.
2)      Imam-imam ilmu fiqih, dalam hal ushuluddin mempercayai mahzab shifafiyyah Allah dalam sifat yang azzali dan bebas dari paham Qodariyyah dan Mu'tazilah.
3)      Kelompok ahli hadits, pandai membedakan antara hadits shohih dan tidak
4)      Kelompok ahli adab (kesusastraan Arab)
5)      Kelompok ahli Qur'an, tafsir, dan ta'wilnya sesuai mahzab ahli sunnah wal jama'ah
6)      Kelompok sufi
7)      Kelompok mujahid (pejuang Islam)
8)      Orang awam yang I'tiqodnya besar sesuai dengan ulama ahli sunnah wal jama'ah dalam bab keadilan, tauhid, janji dan ancaman, mengikuti dalam hal halal haram
c. Corak pemikiran aswaja
1)      Dalam sejarah pemikiran Islam, aswaja lebih popular setelah Abu Hasan Al Asy'ari (wafat 324 H/ 236 Masehi) dan Abu Manshur Al Maturidi (wafat 944 Masehi) mengajukan gagasan kalamnya yang antitesis terhadap pemikira-pemikiran Mu'tazilah
2)      Dari berbagai pemikiran Asy'ari maupun Maturidi diketahui bahwa pemikiran-pemikiran mereka memiliki corak sendiri yang dapat dibedakan dari corak pemikiran lain.
a)      Al Iqtashad (moderat/tawassut)
Yaitu suatu ciri yang menengahi antara dua pikiran yang ekstrim antara Qodariyyah dan Jabariyyah, ortodoks Salaf dan nasionalisme Mu'tazilah. Dan antara sufisme falsafi dan sufisme salafi
b)      Pemikiran aswaja adalah sikap toleransi (tasamuh) yang sangat besar terhadap pluralisme pikiran. Berbagai pikiran yang tumbuh dalam masyarakat muslim mendapatkan pengakuan yang apresiatif
Aswaja dalam hal ini sangat responsif terhadap hasil pemikiran berbagai mahzab. Sikap toleran aswaja yang demikian telah memberikan makna khusus dalam hubungannya dengan dimensi kemanusiaan secara luas, dan ini akan mengantarkan pada visi kehidupan dunia yang rahmat di bawah prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa. Me;lalui sikap dan pandangan yang demikian, aswaja selanjutnya berusaha menyeimbangkan keseimbangan (tawazun) cirri lain dari aswaja.

B.  ASWAJA AQIDAH DAN SYARI'AH
1.   Munculnya golongan aswaja
  1. Munculnya aswaja pada abad II dan III hijriyah dalam sejarah Islam memperlihatkan perang pemikiran antara golongan rasionalismedan muhadditsin dengan inti persoalan yang berazaskan pada kedudukan akal dan wahyu
  2. Tokoh yang mempelopori munculnya aswaja adalah Syaikh Abu Hasan Ali Al Asy'ari dan Syaikh Abu Manshur Al maturidi. Sebagai reaksi terhadap berbagai aliran sesat pada saat itu serta untuk menangkisnya.
2.   Ajaran-ajaran Aswaja
  1. Pemikiran-pemikiran Asy'ariyyah dan Maturidiyyah pada umumnya merupakan reaksi-reaksi terhadap ajaran-ajaran mu'tazilah yang berpangkal pada 5 ajaran dasar, yaitu; at tauhid, al adlu, al wa'du wa al wa'id, al manzilah bainal manzilatain, al amru al ma'ruf dan al nahyu al munkar.
  2. Adapun ajaran-ajaran aswaja antara lain:
1)      mengenai sifat Allah
Tuhan mempunyai sifat melihat, mendengar, berbicara, memiliki wajah, tangan, duduk di atas arsy seperti yang disebutkan dalam Al Qur'an. Tetapi dengan tidak diketahui bentuk-Nya. Sifat Tuhan bukan esensi Tuhan itu sendiri, Tuhan dan Dzat Tuhan adalah berbeda.
2)      mengenai Al Qur'an
Asy'ari berpendat bahwa Al Qu'an adalah kalamullah, tidak berubah, tidak diciptakan, bukan makhluk, dan tidak baharu. Adapun bentuk, huruf, warna dan suara adalah diciptakan.
Sedangkan menurut Al Maturidi, kalamullah adalah makna yang melekat pada Dzat Allah, oleh karena itu, ia adalah salah satu sifat yang berhubungan dengan dzat-Nya.
Kesimpulannya adalah, AlQur'an yang merupakan huruf-huruf, kata-kata dan ibarat yang menunjukkan makna yang qodim adalah baru, sekalipun tidak disebut makhluk.
  1. Biografi imam Asy'ari dan imam Maturidi
1)   biografi imam Asy'ari
a)      seorang tokoh besar pemikir Islam yang merintis keseluruhan penjabaran aqidahatau aqoid kepercayaan Islam dalam ilmu kalam
b)      dilahirkan di Basrah (Irak) tahun 260H
c)      wafat di Bagdad pada 324 H/935 M
Pada mulanya beliau adalah murid seorang mu'tazilah, Syeikh Abu Ali Muhammad bin Abdul Wahab Al Jubai, akan tetapi akhirnya bertaubat dengan keluar dari mu'tazilah dengan berpidato di atas mimbar masjid Basrah, yang intinya beliau tidak meyakini lagi bagaimana keyakinan golongan mu'tazilahyang mengatakan bahwa:
ü      Al Qur'an itu makhluk
ü      Manusia tidak bias melihat Allah dengan mata kepala di akhirat
ü      Manusia menciptakan perbuatannya sendiri
Untuk menentang pendapat mu'tazilah yang sesat itu, beliau berpendapat dan menulis kitab kira-kira ada 200 kitab. Diantaranya yang terkenal adalah; Al Mujaz, Al Ibanah, Maqolatul Islamiyyah.
Imam Asy'ari mengutamakan dalil naqli (Al Qur'an dan hadits) kemudian akal dan pikiran. Sedangkan mu'tazilah mengutamakan dalilnya dengan akal dan filsafat Yunani dalam masalah ushuluddin.
2)   Biografi imam Al Maturidi
Beliau lahir di Samarkand (Uzbekistan) 250 H. pada masa beliau banyak perdebatan antara mahzab Hanafi dan Syafi'I dan beliau sendiri bermahzab Hanafi.
Meskipun metode beliau berbeda dengan imam Asy'ari, namun hasil pemikirannya terutama bidang aqidah banyak persamaannya.
  1. Metode pendekatan teologi sunni
1)      Metode pendekatan Al Asy'ari
Suatu karakteristik dari suatu faham Asy'ari adalah istiqomah. Sehingga faham ini disebut "ahlu sunnah wal istiqomah". Istiqomah berarti jalan tengah atau moderat. Ahlu sunnah wal istiqomah berarti memegang tradisi. Jalan lurus dan tengah.
Metode yang ditempuh Al Asy'ari terlihat pada pandangannya yang bersifat pasrah pada nasib (fatalisme).
2)      Metode pendekatan Al Maturidiyyah
Disebut Al Maturidiyyah karena merupakan penjabaran simpul aqidah atau simpul-simpul aqoid kepercayaan Islam dalam ilmu kalam yang bertitik tolak dari rintisan seorang pemikir Islam ( Abu Mansyur Al Maturidi).
Dalam aliran Al Maturidi terdapat 2 golongan:
a)      Golongan samarkand, yaitu pengikut-pengikut AlMaturidi sendiri. Golongan ini berpaham lebih dekat Al Asy'ari daripada mu'tazilah
b)      Golongan Bukhoro, yaitu pengikut-pengikut Al Bazdawi. Golongan ini memiliki pendapat yang lebih dekat pada pendapat-pendapat Al Asy'ari.
Jadi faham sunni adalah faham keagamaan yang berwatak keseimbangan (ahlu istiqomah) atau ummatan wa shatan yang bersedia memahami segala sesuatu dalam aspirasi sejarah dan budaya yang di dalamnya semua manusia ikut terlibat.

C.  DASAR HUKUM ISLAM MENURUT AHLU SUNNAH WAL JAMA'AH
Dasar hukum Islam yang disepakati kaum aswaja terdiri dari Al Qur'an, Hadits, Ijma', dan Qiyas.
1.      Al Qur'an
a.       Pengertian
Menurut bahasa, Al Qur'an artinya bacaan atau yang dibaca. Sedang menurut istilah, Al Qur'an adalah firman Allah sebagai mu'jizat nabi Muhammad SAW yang diturunkan Allah SWT melalui malaikat Jibril, yang ditulis dalam mushaf yang diturunkan secara mutawatir dan membacanya merupakan ibadah.
b.      Kandungan Al Qur'an
Kandungan secara garis besar ada 5 perkara
1)      tentang aqidah
Mengesakan kepada Allah SWT yang merupakan hak-Nya. Meluruskan aqidah-aqidah yang telah banyak diselewengkan oleh kaum musyrikin.
2)      tentang janji dan ancaman
Melalui Al Qur'an Allah menjanjikan kebahagiaan dan mengancam bagi orang yang inkar dengan siksa dan sengsara dunia akhirat.
3)      tentang ibadah
Melalui Al Qur'an ini Allah memberikan tata cara beribadah yang merupakan pengabdian dan sebagai tanda syukur kepada-Nya.
4)      tentang jalan dan cara memperoleh kebahagiaan
Al Qur'an secara jelas menjabarkan masalah-masalah keduniaan dan akhirat yang dapat dijadikan patokan (hukum-hukum) untuk mendapatkan kebahagiaan.
5)      tentang sejarah umat masa lalu
Di dalam Al Qur'an dijelaskan kisah-kisah orang sholih yang dapat dijadikan teladan, juga orang-orang durhaka yang kehidupannya mendapat laknat dari Allah untuk dijadikan iktibar (pelajaran).
c.       Macam-macam hukum yang terkandung dalam Al Qur'an
1)      ahkam I'tiqodiyyah
yaitu hukum-hukum yang berhubungan dengan keyakinan kepada Allah, Malaikat, Rosul, dan hari pembalasan
2)      ahkam khuluqiyyah
hukum-hukum mengenai akhlaq atau tingkah laku manusia menghindari kehinaan dan mencari keutamaan
3)      ahkam amaliyyah
yaitu hukum yang berhubungan dengan persoalan keseharian manusia dalam berinteraksi dengan sesama
2.      Hadits
a.       Pengertian hadits atau sunnah
Hadits berarti baru, dekat, warta berita
Menurut ahli hadits, yaitu segala ucapan, perbuatan, keadaan, atau perilaku Nabi SAW.
b.      Kedudukan hadits dalam hukum Islam
Hadits merupakan sumber hukum Islam yang kedua setelah Al Qur'an.
Fungsi hadits terhadap Al Qur'an:
1)      Sebagai penguat hukum dalam Al Qur'an
2)      Sebagai penjelas, penjabar dalam Al Qur'an
3)      Sebagai jembatan ketetapan hukum yang tidak ada dalam Al Qur'an
c.       Pembagian hadits
1)      Hadits mutawatir
Meliputi; mutawatir lafdli, ma'nawi, dan mutawatir amali
2)      Hadits ahad
Yaitu hadits yang perowinya tidak mencapai jumlah rowi hadits mutawatir
3.      Ijma'
a.       Pengertian ijma'
Secara bahasa berarti sepakat, setuju, sependapat.
Secara istilah syara' ialah kebulatan pendapat semua ahli ijtihad umat Muhammad SAW sesudah beliau wafat pada suatu masa, tentang suatu perkara (hukum).
b.      Dasar Ijma'
Dasar ijma' ada kalanya berupa dalil qoth'I (Al Qur'an dan hadits mutawatir) dan ada kalanya berupa dalil dzomi (hadits ahad dan qiyas).
c.       Kedudukan ijma'
Ijma' dapat digunakan sebagai sandaran hukum selama tidak didapati nashnya dalam Al Qur'an dan hadits. Ijma' sebagai dasar hukum menempati urutan ketiga.
4.   Qiyas
a.   Pengertian
Menurut bahasa, qiyas mengukur, menyamakan
Menurut istilah, qiyas adalah menetapkan hukum suatu perkara (hukum) yang belum ada ketentuan hukumnya berdasarkan hukum yang yang telah ditentukan oleh nash, karena adanya persamaan illat (sebab) hukum diantara keduanya.
b.   Macam-macam qiyas
1)   qiyas aulawi (lebih-lebih)
yaitu qiyas yang illatnya itulah yang menetapkan adanya hukum
2)   qiyas musawi (bersamaan illat)
adalah qiyas illat sama dengan illat qiyas aulawi hanya hukum cabangnya setingkat dengan hukum asalnya
3)      qiyas dilalah (menunjukkan)
adalah qiyas yang illatnya tidak menetapkan hukum tetapi menunjukkan juga adanya hukum
4)   qiyas syibbi (menyerupai)
adalah mengqiyas cabang yang diragukan diantara kedua pangkal kemana yang paling banyak menyamai
c.   Kedudukan qiyas
Qiyas merupakan sumber hukum yang keempat setelah Al Qur'an, hadits, dan ijma'.
Demikian konsepsi kaum aswaja dalam mengambil dasar hukum syara' yang senantiasa mendahulukan dan mengutamakan Al Qur'an dan hadits terlebih dahulu baru kalau tidak didapati dari keduanya beralih ke ijma' dan qiyas.

D.  KERANGKA BERPIKIR AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH
Ahlus sunnah wal jama'ah meliputi pemahaman dalam bidang aqidah, fiqih maupun tasawuf, Karen aketiganya merupakan ajaran Islam yang bersumber dari nash Al Qur'an maupun hadits. Di lingkungan ahlu sunnah wal jama'ah terdapat kesepakatan dan perbedaan. Perbedaan itu terjadi dalam rangka penerapan dari prinsip-prinsip yang disepakati karena adanya perbedaan penafsiran sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab ushul fiqh dan tafsir nusus.
Perbedaan diantara kelompok ahlu sunnah wal jama'ah tidak mengakibatkan keluar dari golongan itu sendiri sepanjang masih menggunakan metode yang disepakati sebagai manhaj al jami'. Oleh sebab itu, antara kelompok ahlu sunnah wal jama'ah walaupun terjadi perbedaan tidak boleh saling menkafirkan dan memfasikkan.
1.   Perkembangan ahlu sunnah wal jama'ah
Pada periode pertama, para shahabat dalam menghadapi masalah senantiasa berpegang pada nash Al Qur'an dan hadits, tanpa mendiskusikannya. Ketika wilayah yang dikuasai umat Islam semakin luas, maka pandangan shahabat terbagi menjadi dua kelompok.
Pertama, yang memilih diam dan menghindari dari perdebatan dan menganggap hal tersebut sebagai bid'ah yang dibenci.
Kedua adalah kelompok yang memilih untuk melakukan pembahasan dan diskusi untuk menghindarkan kerancuan pemahaman serta memelihara aqidah Islamiyyah dari berbagai penyimpangan.
2.   Proses pembentukan ahlu sunnah wal jama'ah
Proses ini membutuhkan waktu yang panjang. Sejarah menunjukkan bahwa pemikiran keagamaan sunni dalam bidang teologi, hukum, tasawuf, dan politik tidak terbentuk dalam satu masa, melainkan muncul secara bertahap dalam waktu yang berbeda.
Dengan demikian, maka faham ahlu sunnah wal jama'ah adalah akumulasi pemikiran keagamaan dalam berbagai bidang yang dihasilkan oleh para ulama untuk menjawab persoalan yang muncul pada zaman tertentu. Hal ini dilakukan agar faham sunni bisa selalu relevan dengan perkembangan baru yang muncul seiring dengan perubahan waktu.
Dalam proses pembentukan idiologi sunni ternyata banyak ketegangan. Dalam masa formal idiologi sunni tersebut, misalnya telah terjadi polemic intelektual antara al Syafi'i dengan ulama khawarij dan mu'tazilah, dan perebutan mencari pengaruh politik antara al Qodir dan penguasa Saljuk dengan penguasa Fatimi.
Dalam rangka mereduksi ketegangan itu, upaya-upaya telah dilakukan agar dua idiologi besar dalam Islam itu (ahlu sunnah wal jama'ah dan syi'ah) bisa mencari titik persamaan di tengah perbedaan yang secara intrinsic memang tidak bisa dihindari.
Konsep pemahaman baru aswaja tersebut tanpa harus mendefinisikan ulang, tetapi cukup dengan interprestasi ulang. Pemahaman yang benar dan luas dapat memberi pengaruh keluasan cakrawala dan tindakan seseorang. Dengan memahami bahwa bermahzab aswaja tidak berarti selamanya mengikuti doktrin aqwal aswaja, tetapi dapat juga dengan mengikuti semangat yang tercurah dalam manhaj.
3.   Aliran-aliran di luar aswaja
a.   Syi'ah
Merupakan liran yang sangat memuja dan mengunggul-unggulkan Ali bin Abi Tholib. Ciri-ciri:
1)      sangat memuja Ali bin Abi Tholib
2)      mereka beranggapan pengganti setelah Muhammad SAW adalah Ali
3)      beranggapan bahwa Ali lebih berhak daripada Abu Bakar
4)      beranggapan bahwa Abu Bakar, Umar, dan Utsman merebut hak Ali dalam memegang kholifah
b.   Khawarij
Merupakan golongan yang keluar dari jama'ah kaum muslimin, ahlu sunnah wal jama'ah. Cirri-ciri:
1)      setiap orang selain pengikut khawarij dianggap kafir
2)      setiap dosa adalah dosa besar (tidak ada dosa kecil)
c.   Mu'tazilah
Merupakan aliran yang mengagungkan akal. Tokohnya adalah Washil bin Atho'. Ciri-ciri:
1)      berpendapat bahwa Allah tidak mempunyai sifat
2)      ukuran baik atau buruk sangat ditentukan oleh akal, bukan dari wahyu
3)      sifat nabi tidak ada
d.   Qodariyyah
Aliran yang berpendapat bahwa manusialah yang menciptakan perbuatannya sendiri. Sedangkan Allah tidak ikut campur tangan. Tokohnya ialah Ibrahim bin Sajar. Ciri-ciri:
1)      takdir itu tidak ada
2)      ijma' para ulama tidak bias
e.   Jabariyyah
Berpendapat bahwa segala ketentuan di tangan Allah. Aliran ini didirikan oleh Jaham bin Suryam. Cirri-ciri:
1)      usaha/ihtiar tidak ada gunanya
2)      iman di dalam hati, tidak perlu diucapkan
3)      tidak perlu mengucapkan syahadat
f.    Aliran mutasyabihat
Aliran ini menyerupakan Allah dengan makhluk. Tokohnya yaitu Ab Abdillah Awwarah. Ciri-ciri:
1)      Allah mempunyai tangan, kaki dll seperti manusia
2)      Bahwa Allah bertempat di atas langit
g.   Murji'ah
Ciri-ciri:
1)      Rukum iman ada dua, iman kepada Allah dan Rosul
2)      Setelah mengenal Allah dan Rosul, berbuat dosa tidak dilarang lagi
Tokoh: Hasan bin Hilal Al Muzu'I dan Abu Salaf
h.   Najariyyah
Ciri-ciri:
1)      Allah tidak punya sifat
2)      Orang yang berbuat dosa pasti masuk neraka
3)      Ampunan Allah dan syafa'at nabi tidak ada
i.    Wahabiyyah
Didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Ciri-ciri:
1)      Tawashul termasuk musyrik, tahlil merupakan bid'ah sesat
2)      Membangun kubah di atas kubur adalah haram
3)      Syafa'at selain nabi tidak ada, dan yang memohon kepadanya musyrik
4)      Membaca manakib hukumnya haram
5)      Selamatan orang mati hukumnya bid'ah sesat
j.    Wahaiyyah
Aliran ini didirikan oleh Waha'ullah. Ciri-ciri:
1)      Agama Islam dan nasrani harus disatukan, karena memiliki induk yang sama
2)      Berperang memakai senjata hukumnya haram, walaupun untuk membela agama Allah
3)      Membenarkan aliran wahdudul wujud "manunggaling kawulo lan gusti"
k.   Ahmadiyyah
Didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad di Pakistan. Ciri-ciri:
1)      Mirza Ghulam Ahmad adalah sebagai nabi
2)      Aliran ini berpendapat, agama Islam belum sempurna dan akan disempurnakan oleh Mirza Ghulam A.
4.   Ciri-ciri aswaja yang dikembangkan oleh NU
a.       Tawasut dan I'tidal
Tawasut: sikap berada di tengah-tengah, keseimbangan antara penggunaan akal dan dalil-dalil Al Qur'an.
I'tidal: bersikap adil dalam kehidupan, penggunaan akal dan dalil-dalil Qur'an serta bersikap adil.
b.      Tawazun : bersikap seimbang dalam pengabdian, baik pengabdian kepada Allah maupun pengabdian kepada manusia serta lingkungan.
c.       Tasamuh : bersikap toleran terhadap perbedaan pandangan baik dalam masalah keagamaan terutama dalam perbedaan furu' (fiqih) maupun dalam urusan dunia akhirat.
d.      Amar ma'ruf nahi munkar: selalu memiliki kepekaan untuk mendorong perbuatan yang baik dan bermanfa'atbagi kehidupan bersama.

Senin, 13 Desember 2010

Tawassul Apakah Bukan Termasuk Syirik

Seorang pembaca NU Online menanyakan fasal tentang tawassul atau mendoakan melalui perantara orang yang sudah meninggal. "Apakah bertawasul/berdo'a dengan perantaraan orang yang sudah mati hukumnya haram atau termasuk syirik karena sudah meminta kepada sang mati (lewat perantaraan)? Saya gelisah, karena amalan ini banyak dilakukan oleh masyarakat di Indonesia. Apalagi dilakukan sebelum bulan Ramadhan dengan mengunjungi makam-makam wali dan lain-lain sehingga untuk mendo'akan orang tua kita yang sudah meninggal pun seakan terlupakan," katanya. Perlu kami jelaskan kembali bahwa tawassul secara bahasa artinya perantara dan mendekatkan diri. Disebutkan dalam firman Allah SWT:
يآأَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, " (Al-Maidah:35).
Pengertian tawassul sebagaimana yang dipahami oleh umat muslim selama ini bahwa tawassul adalah berdoa kepada Allah SWT melalui suatu perantara, baik perantara tersebut berupa amal baik kita ataupun melalui orang sholeh yang kita anggap mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah SWT. Jadi tawassul merupakan pintu dan perantara doa untuk menuju Allah SWT. Tawassul merupakan salah satu cara dalam berdoa.
Banyak sekali cara untuk berdoa agar dikabulkan oleh Allah SWT, seperti berdoa di sepertiga malam terakhir, berdoa di Maqam Multazam, berdoa dengan didahului bacaan alhamdulillah dan shalawat dan meminta doa kepada orang sholeh. Demikian juga tawassul adalah salah satu usaha agar doa yang kita panjatkan diterima dan dikabulkan Allah SWT . Dengan demikian, tawasul adalah alternatif dalam berdoa dan bukan merupakan keharusan.
Para ulama sepakat memperbolehkan tawassul kepada Allah SWT dengan perantaraan amal sholeh, sebagaimana orang melaksanakan sholat, puasa dan membaca Al-Qur’an. Seperti hadis yang sangat populer diriwayatkan dalam hadits sahih yang menceritakan tentang tiga orang yang terperangkap di dalam gua, yang pertama bertawassul kepada Allah SWT atas amal baiknya terhadap kedua orang tuanya; yang kedua bertawassul kepada Allah SWT atas perbuatannya yang selalu menjahui perbuatan tercela walaupun ada kesempatan untuk melakukannya; dan yang ketiga bertawassul kepada Allah SWT atas perbuatannya  yang mampu menjaga amanat terhadap harta orang lain dan mengembalikannya dengan utuh, maka Allah SWT memberikan jalan keluar bagi mereka bertiga.
Adapun yang menjadi perbedaan di kalangan ulama adalah bagaimana hukumnya bertawassul tidak dengan amalnya sendiri melainkan dengan seseorang yang dianggap sholeh dan mempunyai martabat dan derajat tinggi di mata Allah SWT. Sebagaimana ketika seseorang mengatakan: “Ya Allah SWT aku bertawassul kepada-Mu melalui nabi-Mu Muhammmad SAW atau Abu Bakar atau Umar dll”. Para ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini.
Pendapat mayoritas ulama mengatakan boleh, namun beberapa ulama mengatakan tidak boleh. Akan tetapi kalau dikaji secara lebih detail dan mendalam, perbedaan tersebut hanyalah sebatas perbedaan lahiriyah bukan perbedaan yang mendasar karena pada dasarnya tawassul kepada dzat (entitas seseorang), adalah tawassul pada amal perbuatannya, sehingga masuk dalam kategori tawassul yang diperbolehkan oleh ulama’. Pendapat ini berargumen dengan prilaku (atsar) sahabat Nabi SAW:
عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ إِنَّ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ كَانَ إِذَا قَحَطُوْا اسْتَسْقَى بِالعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ المُطَلِّبِ فَقَالَ  اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إَلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتُسْقِيْنَا وَإِنَّا نَنَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَافَيَسْقُوْنَ. أخرجه الإمام البخارى فى صحيحه

“Dari Anas bin malik bahwa Umar bin Khattab ketika menghadapi kemarau panjang, mereka meminta hujan melalui Abbas bin Abdul Muttalib, lalu Umar berkata: "Ya Allah, kami telah bertawassul dengan Nabi kami SAW dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawassul dengan Paman Nabi kita SAW, maka turunkanlah hujan..”. maka hujanpun turun.” (HR. Bukhori)
Imam Syaukani mengatakan bahwa tawassul kepada Nabi Muhammad SAW  ataupun kepada yang lain (orang shaleh), baik pada masa hidupnya  maupun  setelah meninggal adalah merupakan ijma’ para sahabat. "Ketahuilah bahwa tawassul bukanlah meminta kekuatan orang mati atau yang hidup, tetapi berperantara kepada keshalihan seseorang, atau kedekatan derajatnya kepada Allah SWT, sesekali bukanlah manfaat dari manusia, tetapi dari Allah SWT yang telah memilih orang tersebut hingga ia menjadi hamba yang shalih, hidup atau mati tak membedakan atau membatasi kekuasaan Allah SWT, karena ketakwaan mereka dan kedekatan mereka kepada Allah SWT tetap abadi walau mereka telah wafat."
Orang yang bertawassul dalam berdoa kepada Allah SWT menjadikan perantaraan berupa sesuatu yang dicintai-Nya dan dengan berkeyakinan bahwa Allah SWT juga mencintai perantaraan tersebut. Orang yang bertawassul tidak boleh berkeyakinan bahwa perantaranya kepada Allah SWT bisa memberi manfaat dan madlarat kepadanya. Jika ia berkeyakinan bahwa sesuatu yang dijadikan perantaraan menuju Allah SWT itu bisa memberi manfaat dan madlarat, maka dia telah melakukan perbuatan syirik, karena yang bisa memberi manfaat dan madlarat sesungguhnya hanyalah Allah SWT semata.
Jadi kami tegaskan kembali bahwa sejatinya tawassul adalah berdoa kepada Allah SWT melalui suatu perantara, baik perantara tersebut berupa amal baik kita ataupun melalui orang sholeh yang kita anggap mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah SWT. Tawassul hanyalah merupakan pintu dan perantara dalam berdoa untuk menuju Allah SWT. Maka tawassul bukanlah termasuk syirik karena orang yang bertawasul meyakini bahwa hanya Allah-lah yang akan mengabulkan semua doa. Wallahu a’lam bi al-shawab.
H M. Cholil Nafis
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU